-->

Pengertian, Ruang Lingkup, Unsur dalam Karya Seni Lukis - Seni Budaya

Seni lukis adalah wujud ekspresi yang harus dipandang secara utuh Pengertian Seni Lukis, Ruang Lingkup Seni Lukis, Unsur-unsur Seni Lukis

SENI BUDAYA - Dasar Karya Seni Lukis

1. Pengertian Karya Seni Lukis 

Seni Lukis adalah penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk, shape, pada suatu permukaan, yang bertujuan menciptakan berbagai image. Image-image tersebut bisa merupakan pengekspresian ide-ide, emosi, dan pengalaman-pengalaman, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mencapai harmoni. 

Penciptaan  karya seni lukis, menuntut  pengetahuan  dan spesialisasi bidang keahlian, karena itu diperlukan  pengetahuan dasar seni lukis sebagai fondasi proses kreatif yang dilakukan.

Pengertian, Ruang Lingkup, Unsur dalam Karya Seni Lukis -  Seni Budaya


2.  Ruang Lingkup Seni Lukis

Ruang lingkup seni lukis - Ruang, space, extens or area of ground, surface etc. Artinya, ruang adalah keluasan dari suatu bidang atau permukaan. Dalam Design Elementer disebutkan ruang bisa dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau keluasan. Keluasan positif atau negatif yang dibatasi oleh limit.

Berbeda dengan pengertian garis, ruang mempunyai dua dimensi tambahan yaitu lebar dan dalam. Ruang mempunyai gerakan arah dan ciri umum seperti halnya: diagonal, horisontal, bergelombang, lurus, melengkung dan lain-lainnya. Untuk  memperjelas ini, maka batasan utama  adalah yang paling sesuai, yaitu ruang adalah keleluasaan dari satu bidang atau permukaan yang mempunyai bentuk dua dimensional.

Sebenarnya banyak pengertian seni lukis yang didefinisikan oleh  para  pakar  seni, namun  pada  umumnya,  tidak  ada satupun definisi yang dapat memuaskan semua orang. Karena sesungguhnya seni lukis itu memiliki keberagaman dan memiliki banyak aliran, yang satu sama lain di samping mempunyai persamaan,  juga tidak  jarang  saling bertentangan  secara diametral. Dari sekian banyak definisi itu, di sini dipilih salah satu definisi sebagai bekal dasar yang cukup relevan memahami pengertian seni lukis.

Secara teknis lukisan adalah pembubuhan pigmen atau wama dengan bahan pelarut di atas permukaan bidang dasar, seperti pada kanvas, panel untuk  menghasilkan sensasi atau ilusi ruang, gerakan, tekstur, untuk  mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif, baik yang sifatnya intelektual, emosi, simbolik, relegius, dan lain-lain.

Selanjutnya Herbert  Read mengatakan  Seni lukis adalah penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk, shape, pada suatu permukaan, yang bertujuan menciptakan berbagai image. Image-image tersebut bisa merupakan pengekspresian ide-ide, emosi, dan pengalaman-pengalaman, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mencapai harmoni. Adapun pengalaman yang diekspresikan itu adalah pengalaman yang berisi keindahan atau pengalaman estetik.

Menurut  Edmund  Burke Feldman  pengekspresian  itu menggunakan  

  1. Unsur-unsur   visual, yang  terdiri  dari garis, warna, bentuk,  tekstur  dan  ruang  atau  gelap terang, 
  2. Organisasi dari unsur-unsur   tersebut,  yang  meliputi kesatuan, keseimbangan, irama dan perbandingan ukuran.

Dari  sisi  lain,  kritikus  seni  rupa  Dan  Suwar yono mengemukakan  bahwa seni lukis memiliki dua  faktor. 

(1) Faktor Ideoplastis: ide, pendapat, pengalaman, emosi, fantasi, dan lain-lain. Faktor ini lebih bersifat rohaniah yang mendasari penciptaan  seni lukis. 

(2) Faktor Fisioplastis: yang meliputi hal-hal yang menyangkut masalah teknis, termasuk organisasi elemen-elemen visual seperti garis, warna tekstur, ruang, bentuk (shape) dengan prinsip-prinsipnya. Dengan demikian faktor ini lebih bersifat fisik dalam arti seni lukisnya itu sendiri.

Perhatikan  lukisan Gambar



Lukisan Gambar 1, dikenal sebagai vector art, dikerjakan dengan komputer, hasilnya cukup realistis. Bandingkan dengan Lukisan Gambar 2.4, Di Depan Kelambu Terbuka karya Soedjojono, dikerjakan secara manual dan menampilkan  gaya pelukisan ekspresionisme.

Seni lukis yang lebih populer  di tengah masyarakat dan di ajarkan  di lembaga pendidikan  kesenian pada dasarnya adalah easel painting, jenis lukisan yang berukuran lebih kecil dari lukisan dinding atau mural. Sejenis seni lukis yang lebih fleksibel, karena para pelukis dapat membawa easel yang praktis itu keberbagai lokasi untuk melukis di alam bebas, di samping dapat pula digunakan berkarya di studio seni lukis. Berikut ini disajikan beberapa masalah yang berkaitan dengan pengetahuan seni lukis.

3.  Unsur-Unsur Karya Seni Lukis

a.  Garis

Titik tunggal dalam ukuran  kecil memiliki tenaga yang cukup untuk merangsang mata kita dan dapat berperan sebagai ‘awalan’. Apabila titik digerakkan maka dimensi panjangnya akan tampak menonjol dan sosok yang ditimbulkannya disebut ‘garis’. Garis dapat berupa goresan yang kita buat di atas sebuah bidang, tetapi garis dapat  pula mewakili bekas roda,  tiang bambu, kawat, pancaran  cahaya, ruang antara dua bangunan atau dinding, jalan yang melintasi kota, sungai, kontur  tanah yang berkelok-kelok, kontur  pegunungan,  bangunan,  batas dinding dengan lantai, dan seterusnya.

Garis dapat memberikan kesan gerak, ide, atau simbol. Pada karya seni lukis garis dapat mengekspresikan suasana emosi tertentu, seperti perasaan bahagia, sedih, marah, teratur, kacau, bingung, dan lain sebagainya. Secara fisik garis dapat dibuat tebal, tipis, kasar, halus, lurus, lengkung, berombak, memanjang, pendek, putus-putus, patah-patah dan banyak lagi. Unsur garis juga dapat  membangun  asosiasi kita kepada kesan tertentu, misalnya garis horisontal kesannya tenang, tidak bergerak, diam, dan lebar. Sementara garis vertikal kesannya agung, stabil, tinggi, sedangkan garis diagonal kesannya, jatuh, bergerak.

Garis adalah salah satu elemen yang penting dalam seni lukis. Pedoman  seni yang penting  dan  ampuh  sebagaimana juga yang terdapat  dalam hidup,  adalah makin nyata, tajam dan kuat garisnya, makin sempurna hasil seninya. Garis dapat diciptakan melalui (1) kontur, garis paling luar dari benda yang dilukis, (2) Batas pemisah antara dua warna atau cahaya terang dan gelap, (3) lekukan pada bidang melingkar atau memanjang lurus, (4) batas antara dua tekstur yang berlainan.

Dalam Kebudayaan Timur, para pelukis sangat terpesona oleh kekuatan garis, baik di Cina, Jepang, India, maupun Indonesia. Untuk  memahami  kekuatan  garis dalam seni lukis, pekritik seni rupa Sudarmaji mengatakan: “Lukisan Cina klasik yang bersifat grafis memberikan kesan puitis, lembut, penuh irama yang terkendali, serta menimbulkan  efek perasaan tenteram. Sebaliknya pelukis Vincent van Gogh yang menggunakan garis pendek, patah-patah menimbulkan efek yang keras tegar. 

Ada kesan ledakan dan pemberontakan. Jika garis begitu ditunjang juga oleh warna keras menyala, sempurnalah kesan kekerasan dan pemberontakan itu. Di dunia Barat, Henry Matisse, Pablo Picasso, Paul Klee, Roul Dufi sebagian dari tokoh yang kuat dalam garis. Jika garis digoreskan dengan jujur mengikut kata batin, akan ditemukan identifikasi seseorang. la menjadi personal. Dengan garis dapat lahir bentuk, tapi juga bisa mengesankan tekstur, nada dan nuansa, ruang dan volume yang kesemuanya melahirkan suatu perwatakan.”

Dari penjelasan di atas kiranya dapat dimengerti, bahwa unsur garis dalam seni lukis dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan. Teknik penguasaan dan pengendalian garis dalam seni lukis memang memerlukan  latihan yang intensif, tanpa latihan yang kontinu maka bakat tidak akan berkembang optimal.

b.  Warna

Secara fisika warna ditimbulkan  oleh sinar matahari, bila
kita sorotkan  sinar  matahari  ke sebuah kaca prisma  maka sinar tersebut akan terurai menjadi beberapa sinar warna, yang disebut spektrum warna. Setiap spektrum mempunyai kekuatan gelombang yang kemudian sampai pada mata kita, sehingga kita dapat melihat wama tertentu.
 

Pada alam terdapat dua jenis penerima cahaya, yakni sebagai pemantul dan sebagai penyerab cahaya. Secara fisiologi stimulasi cahaya memantulkan  warna suatu objek sehingga merangsang mekanisme mata kita, kemudian rangsangan tersebut disalurkan melalui syaraf optik ke otak, sehingga kita dapat  mengenali warna itu. Secara psikologis telah terbukti bahwa warna dapat mempengaruhi kegiatan fisik maupun mental kita. Reaksi kita terhadap wama bersifat instingtif dan perseorangan, karenanya sensitivitas setiap orang  juga berbeda kepada warna-warna. Pada berbagai aliran seni lukis dalam sejarah seni rupa telah dikenal manifenstasi tatawarna tertentu,  seperti skema warna klasik, skema warna Rembrandt, dan lain sebagainya.

Peran  warna dalam kegiatan seni lukis sangat esensial, baik pada masa pra modern,  masa modem,  maupun  masa posmodern.  Pada  umumnya  para  pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan gerak, jarak, tegangan, deskripsi rupa alam, naturalis, ruang, bentuk, ekspresi atau makna simbolik. Untuk memahami lebih komprehensif peran warna dalam seni lukis, berikut ini akan disajikan sifat optis warna, notasi warna, warna objek, pigmen, yang kesemuanya sangat menentukan kualitas penciptaan sebuah lukisan.

c.  Sifat Warna

Dalam teori  warna dikenal ada tiga sifat optis, optical property, yaitu: hue, value, dan saturation. Hue adalah tingkat kepekatan wama, misalnya merah, merah oranye, atau hijau, biru, biru keunguan dan seterusnya. Yang dimaksud dengan value adalah fenomena kece-merlangan dan kesuraman wama. Nilai rendah adalah warna yang cenderung suram atau kegelapan, sementara  nilai tinggi adalah kecenderungan  warna yang terang dan  cemerlang. Misalnya gejala demikian  dapat  kita lihat pada skala derajat warna abu-abu dari hitam ke putih. Sedangkan saturation adalah intensitas  nada  warna  untuk menunjukkan  wama-wama menyala, dan  warna-warna  yang suram.  Semakin murni  penggunaan  warna semakin tinggi intensitasnya, sebaliknya semakin tidak murni  penggunaan warna semakin rendah intensitasnya. Pada tahun 1940-an seni lukis Affandi dominan menggunakan warna-wama suram atau kusam, kemudian lukisannya berkembang kepenggunaan warna- wama yang cerah. Lihat Gambar 2.2 (halaman 11), Karya Affandi Potret Diri dan Matahari, 1977, yang menggunakan warna-warna merah, oranye, kuning dengan warna latar belakang yang terang abu-abu keputihan.

d.  Notasi Warna

Notasi warna, color notation, adalah sistem klasifikasi atau identifikasi warna menurut  sifat-sifat optisnya. Dalam konteks ini dikenal Sistem Munsell, Sistem Ostwald, Sistem Plochere, dan  Sistem Maxwell. Tatanan  warna dalam the hues of the spectrum terdapat  pada warna pelangi di alam. Sedangkan dalam lingkaran warna, color circle, dapat dilihat warna primer, merah, biru, dan kuning. Warna skunder, adalah hijau, ungu, oranye, ketiganya merupakan hasil pencampuran warna primer. Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna, misalnya merah dengan hijau, biru dengan oranye, dan kuning dengan ungu. Terang dan gelap diungkapkan dengan warna putih dan hitam. Sedangkan wama netral adalah warna abu-abu. Bila hue adalah nama suatu warna, value kecerahan dan kecemerlangan wama, maka chroma adalah sifat kualitas, intensitas, dan kejernihan warna.

e.  Warna-Warna Antara

Setelah  warna  primer,  warna  skunder,  dan  warna komplementer, dikenal pula warna-warna antara, intermediate color, seperti merah oranye, merah ungu, biru ungu, hijau biru, kuning hijau, dan oranye kuning. Sebenarnya dalam teori warna, jumlah warna ada delapan puluh warna.

f.   Warna Hangat dan Warna Sejuk

Dari lingkaran wama dapat pula ditentukan warna hangat-panas dan warna sejuk-dingin, the warm color, the cool color. Warna yang memberi efek kehangatan adalah merah, oranye dan kuning, sementara wama hijau dan biru memberikan efek yang menyejukkan. Pengertian ini kita terjemahkan dari penglaman keseharian, pada saat kita mendekati  wama api yang merah,  kita tentu merasa kehangatan, atau, malah jika terlalu dekat bisa kepanasan. Sementara bila kita berada di daerah pegunungan yang hijau atau gunung yang kebiruan kita merasakan iklim yang sejuk. Asosiasi kita mengenai pengalaman real seperti itu menyebabkan kita mengartikan sifat warna menjadi hangat-panas bagi warna merah, oranye dan kuning, sementara  warna hijau dan biru memberikan efek menyejukkan atau dingin.

g.  Warna Kromatik dan Akromatik

Warna kromatik, chromatic color, terdiri dan warna hitam, putih,  dan  abu-abu,  selebihnya termasuk  warna akromatik, achromatic color, seperti merah, biru, kuning, hijau, oranye dan seterusnya. Dalam seni lukis penggunaan warna tunggal sering diartikan sebagai warna kromatik, sementara penggunaan warna yang meriah, menggunakan banyak warna, disebut polychromatic.

h.  Warna Objek dan Warna Pigmen

Warna  objek adalah  warna  yang terkena  sinar  warna spektrum, yang mengenai mekanisme mata pengamat adalah warna spektrum  dengan panjang gelombang tertentu  yang dipantulkan oleh objek pengamatan. Jika objeknya biru, maka warna spektrum biru panjang gelombang birulah yang dicerap mata  pengamat.  Ini berarti  pantulan  warna tersebut  adalah pantulan warna biru, sedangkan sisanya diserap oleh permukaan objek tersebut.Warna pigment atau coloring material yang berupa bubuk halus yang disatukan dengan zat pengikat, atau paint vehicle merupakan  warna cat yang dikenal luas, seperti cat air, cat poster, cat gouache, cat tempera, cat minyak, cat akrilik, dan lain sebagainya.

3.  Tekstur Seni Lukis

Pada umumnya para pelukis memanfaatkan tekstur, texture is quality of surface: smooth, rough, slick, grainy, soft, or hard. Kualitas taktil dari suatu  permukaan,  nilai kesan raba atau berkaitan dengan indra peraba. Suatu struktur  penggambaran permukaan  objek, seperti.  buah-buahan,  kulit, rambut,  batu, kain, barang  elektronik, dan  lain sebagainya. Tekstur  bisa kasar, halus, keras, lunak, berbutir, bisa juga kasar atau licin, teratur,  atau  tidak  beraturan,  sesuai dengan  kualitas yang ingin diekspresikan.



Tekstur dibuat di atas kanvas, bisa dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti modeling paste, pasir, bubuk marmar, dan lain lain. Pada umumnya tekstur digunakan tidak semata-mata dari segi teknis, tetapi mengacu kepada substansi lukisan, atau ekspresi lukisan. Jika nilai ekspresi merupakan unsur  pokok lukisan, maka pemanfaatan  tekstur  merupakan pendukung  pengejawantahan  nilai  ekspresi itu  sendiri. Para  pelukis memanfaatkan  unsur  tekstur  untuk  variasi, fokus atau  kesatuan. Kesemuanya itu  dapat  terjadi dengan kesengajaan pelukisnya, maupun karena sifat dari media yang dipakai ketika melukis. Dalam kaitannya dengan para pelukis formalis, maka fungsi teksur  dapat  berubah  sebagai unsur yang berdiri sendiri, artinya tidak ada kaitannya dengan tujuan eksternal tertentu,  bagi mereka penggarapan tekstur  semata- mata untuk mencapai efek estetis dalam kesatuan lukisan. Lihat pada lukisan Ahmad Sadali (gambar 2.7), yang menggunakan tekstur nyata dengan latar pewarnaan yang kelam, kemudian diberi aksentuasi warna-warna emas. Sedangkan pada gambar 2.8, Fajar Sidik menyajikan latar warna cerah merah dengan menyajikan bentuk-bentuk  lingkaran, segi tiga, trapesium dan lain-lain. Bentuk-bentuk itu diisi dengan warna merah, hijau tua, biru laut, hijau muda, merah jambu, oranye dan kuning gading. 



Fajar Sidik berusaha menggabungkan peralihan bentuk dengan warna komplementer merah-hijau dalam intensitas warna yang berlainan. Efek pengisian warna pada motif   berwarna gelap menghasilkan garis yang tegas di sekeliling motif tadi. Hal ini menimbulkan efek ritmis yang dinamis nyaris di seluruh bidang kanvas. Bentuk dan warna bulan sabit tampil sebagai keunikan lukisan (singular sign). Jika seseorang mengamati permukaan lukisan dan mendapat kesan kasar, kemudian meraba lukisan tersebut benar-benar juga kasar. Atau sebaliknya kesan pengamatan memberi kesan halus, ketika diraba juga halus, maka jenis tekstur seperti itu disebut tekstur nyata, actual texture, karena antara  hasil pengamatan dengan kenyataan memiliki kualitas yang sama. 

Jika seseorang mendapat  kesan kasar pada pengamatan  permukaan  objek lukisan, sementara hasil perabaannya sesungguhnya halus, atau kesan pengamatan halus dan kesan raba kasar, maka jenis tekstur seperti ini disebut tekstur semu, simulated texture or synthetic texture, Karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan sesungguhnya tidak sama melainkan berbeda alias tidak nyata. Biasanya tekstur seperti ini dihasilkan dari efek permainan  warna, pola, nada, dan garis.

Bagaimana pemanfaatan  unsur  tekstur ini dalam lukisan, dapat disimak pada uraian berikut, The expressionist type of picture (see van Gogh: Night Café); gives a violent’  and spasmodic sensation of movement through its texture, in accord with the more powerful emotion the artist wishes to express (Meyers, 2004: 161). Dengan demikian maka pemanfaatan tekstur seiring dengan keinginan mengekspresikan sesuatu, pada kasus van Gogh terlihat kaitan antara tekstur dengan emosi pelukisnya.

5.  Bentuk

Semua karya seni rupa mempunyai bentuk, apakah realistik atau abstrak, representasional atau non representasional, dirancang dengan cermat dan hati-hati atau dihasilkan dengan spontan.  Seni lukis, apapun  jenis dan  alirannya  semuanya merupakan pengorganisasian elemen rupa menjadi bentuk seni.

Dalam teori  seni pemakaian  istilah bentuk  merupakan terjemahan dari shape, sedangkan istilah wujud merupakan terjemahan dari form. B entuk biasanya diartikan sebagai aspek visual, bagian-bagian yang tergabung menjadi satu yang disebut rupa  atau  wujud. Dalam konteks seni rupa,  wujud mengandung  pengertian  yang khas, yaitu yang memberikan tatanan  khusus  sehingga mampu  mempengaruhi  persepsi pengamat. Artinya wujud atau perupaan yang mampu merangsang pengalaman  psikologis tertentu  bagi pengamat. Dalam praktiknya istilah ini sering dipertukarkan pemakaiannya. Di Indonesia pada umumnya hanya dipergunakan istilah bentuk untuk mengartikan rupa atau wujud karya seni. 

Bentuk dalam pengertian seni lukis memiliki banyak segi, ada bentuk  figuratif, bentuk  semi figuratif dan  bentuk  non figuratif. Bentuk figuratif bisa menghasilkan bentuk imitatif yakni berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam (keindahan pegunungan, pantai, daerah pertanian, fauna, flora, potret, dalam setting alamiahnya) atau bentuk ciptaan manusia (seperti pabrik, kota, pelabuhan,  café, dan  lain-lain)  objek ini di lukis persis seperti keadaan aslinya). Karya-karya yang dihasilkan dengan sendirinya cenderung menjadi naturalisme atau realisme. Atau jika kehadirannya dipicu oleh kehidupan bawah sadar pencipatanya, maka bisa pula menghasilkan karya- karya surealisme seperti pada karya-karya Salvador Dali, Sudibio, atau Ivan Sagito.

Bentuk semi figuratif antara lain bentuk distorsif, bentuk yang telah dirubah  dari  bentuk  asal menjadi  bentuk  yang lebih estetis sesuai dengan  cita rasa penciptanya.  Dengan gaya perseorangan  yang khas bisa dihasilkan dengan teknik pemanjangan, pemendekan, peninggian, pemiringan, dan perubahan-perubahan lain dari objek yang dilukis, semuanya ditujukan untuk maksud-maksud tertentu sebagai pengungkapan pengalaman seni perseorangan. Juga dikenal bentuk geometris, teknik pelukisan yang menghadirkan bentuk-bentuk yang tertib, teratur,  dengan pengulangan objek atau motif tertentu  sesuai dengan kebutuhan. Bentuk dalam konteks ini bisa dihasilkan dari analisis bentuk alam menjadi bentuk dasar dengan kebebasan yang bervariasi, seperti  lukisan  kubisme, optical art  dan sejenisnya. 

Karya yang dihasilkan bisa semi figuratif, dan bisa pula menjadi abstrak geometris, apabila bentuk lukisan tidak lagi menggambarkan bentuk-bentuk  yang bisa diamati dalam kehidupan  keseharian. Jika pelukisan menjadi bidang warna yang datar dalam karya maka bentuk-bentuk  yang dihasilkan menjadi  neo plastisisme, seperti karya Piet Mondrian,  atau color field painting, seperti karya Ellswort Kelly. Sebaliknya jika pelukisannya disertai unsur emosi maka akan menjadi abstrak ekspresionisme seperti karya Jackson Pollock. Atau jika bentuk itu  tidak berupaya mencapai efek tiga dimensional  disebut bentuk dekoratif, seperti lukisan-lukisan tradisional Bali, atau karya-karya Kartono Yudhokusumo, Mulyadi W. Batara Lubis dan lain-lain.

Jadi Seni lukis adalah wujud ekspresi yang harus  dipandang secara utuh. Keutuhan wujud itu, terdiri dari ide dan organisasi elemen-elemen  visual. Elemen-elemen  visual  tersebut disusun sedemikian rupa oleh seorang pelukis dalam bidang dua dimensional. 

Pengertian/Defenisi seni lukis sesungguhnya mencakup ruang lingkup yang lebih luas dari sebuah defenisi, karena seni lukis juga mengenal istilah lukisan dinding, lukisan miniatur, lukisan pottery, lukisan manuskrip, lukisan jambangan, lukisan mosaik, lukisan potret, lukisan kaca. lukisan enamel, lukisan teknologis yang dibuat  dengan menggunakan  media elektronik, seperti komputer. 

Nah itulah penjelasan singkat tentang Pengertian, Ruang Lingkup, Unsur dalam Karya Seni Lukis yang mungkin bisa menjadi sebuah referensi buat teman-teman semua. Terimakasih sudah membaca Pengertian Seni Lukis, Ruang Lingkup Seni Lukis, Unsur-unsur Seni Lukis di Blog https://worldcryptocurenccy.blogspot.com/

Anda mungkin menyukai postingan ini