-->

16 Item Kegiatan Pencegahan Stunting di Desa - Program Dana Desa 2020

KEGIATAN PENCEGAHAN STUNTING DI DESA

https://worldcryptocurenccy.blogspot.com/search/label/Desa%20Membangun


*Daftar Isi Desa Membangun*



 

Crypto Coin Nias - Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang berulang, infeksi berulang, dan pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK. Anak tergolong stunting apabila lebih pendek dari standar umur anak sebayanya.

Standar panjang atau tinggi badan anak dapat dilihat pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Balita dan/atau bayi dibawah usia dua tahun (Baduta) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang berulang, infeksi berulang, dan pola asuh yang tidak memadai terutama dalam 1.000 HPK. Anak tergolong stunting apabila lebih pendek dari standar umur anak sebayanya.

Pemanfaatan Dana Desa untuk penanganan stunting dapat dimulai dari pemetaan sasaran secara partisipatif terhadap warga desa yang terindikasi perlu mendapat perhatian dalam penanganan stunting oleh kader pemberdayaan di desa. Selanjutnya lewat Rembuk Stunting Desa, seluruh pemangku kepentingan di desa merumuskan langkah yang diperlukan dalam upaya penanganan stunting termasuk bekerja sama dengan dinas layanan terkait.
Salah satu masalah utama yang di hadapi Indonesia adalah masalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita atau bayi yang berusia di bawah lima tahun, sebagai akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Masalah stunting tidak boleh dianggap remeh oleh semua pihak, dikarenakan masalah ini dapat berakibat pada kualitas dari anak-anak penerus bangsa. 

Akibat yang ditimbulkan dari masalah stunting antara lain meliputi fisik anak seperti berat badan dan tinggi badan yang tidak baik. Selain fisik, perkembangan otak anak juga akan terhambat, serta anak berisiko tinggi mengidap penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, stroke dan penyakit jantung saat anak berusia dewasa nanti.

Dukungan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi dalam upaya penurunan stunting antara lain melalui pengaktifan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh unsur desa. Beberapa kegiatan tersebut seperti pembangunan/rehabilitasi poskesdes, polindes dan Posyandu, penyediaan makanan sehat untuk peningkatan gizi balita dan anak, perawatan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui.

Pencegahan terhadap stunting tertuang dengan jelas dalam Peraturan Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 16 Tahun 2018 tentangPrioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019 Pasal 6 ayat 1 dan 2. Dalam peraturan tersebut dijelaskan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dalam proses pencegahan stunting. Kegiatannya meliputi penyediaan air bersih dan sanitasi, pemberian makanan tambahan dan bergizi untuk balita, pengembangan ketahanan pangan dan lain sebagainya.

Standar panjang atau tinggi badan anak dapat dilihat pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Balita dan/atau bayi dibawah usia dua tahun (Baduta) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas.


Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting dapat digambarkan sebagai berikut:

1.     Praktek pengasuhan anak yang kurang baik;
2.  Masih terbatasnya layanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan, layanan kesehatan untuk balita/baduta dan pembelajaran dini yang berkualitas;
3.     Masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi;
4.     Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi

Penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk menangani kekurangan gizi kronis (stunting) melalui kegiatan sebagai berikut:

1.   Pelayanan peningkatan gizi keluarga di posyandu berupa kegiatan, penyediaan makanan bergizi untuk ibu hamil, penyediaan makanan bergizi untuk ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan; dan, penyediaan makanan bergizi untuk ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan; dan, penyediaan makanan bergizi untuk balita.

2.     Menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih;

3.     Menyediakan dan memastikan akses terhadap sanitasi (jamban keluarga);

4.     Penyuluhan konsumsi masyarakat terhadap pangan sehat dan bergizi,

5.     Menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan keluarga berencana (kb);


6.     Penyuluhan pentingnya pengasuhan anak kepada pada orang tua
7.     Pendidikan gizi masyarakat;

8.     Memberikan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi kepada remaja;

9.     Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi di desa;

10.  Pelayanan kesehatan lingkungan (seperti penataan air limbah, dll)

11.  Bantuan biaya perawatan kesehatan dan/atau pendampingan untuk ibu hamil, nifas dan menyusui, keluarganya dalam merawat anak dan lansia;

12.  Penyuluhan pasca persalinan, kunjungan nifas, dan kunjungan neonatal;

13.  Penyuluhan pemberian imunisasi, stimulasi perkembangan anak, peran ayah dalam pengasuhan, dll;

14.  Kampanye kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga;

15.  Pelatihan kader kesehatan masyarakat untuk gizi, kesehatan, air bersih, sanitasi, pengasuhan anak, stimulasi, pola konsumsi dan lainnya;

16.  Pelatihan kader untuk melakukan pendampingan dalam memberi asi, pembuatan makanan pendamping asi, stimulasi anak, cara menggosok gigi, dan cuci tangan pakai sabun untuk 1000 hari pertama kehidupan;







Terimakasih.
Semoga Bermanfaat.

Anda mungkin menyukai postingan ini