-->

Belanda dan Jepang Lewat! Suku Nias Bukan Kaleng-Kaleng!



FAKTA UNIK SPARTA INDONESIA DATANG DARI TANAH PULAU NIAS "ONO NIHA"
BELANDA DAN JEPANG, LEWAT!!!!




Tanö Niha atau Pulau Nias adalah tempat tinggal sparta Indonesia. Budaya leluhur yang masih dipertahankan hingga kini telah membentuk pemuda dengan keberanian menjadi pejuang sejati. Langsung saja atau Hombo Batu, tarian perang Foluaya, Omo Sebua, sejarah suram Belanda yang sulit menaklukkan Nias, dan lain-lain. Suku Nias adalah salah satu suku asli Indonesia yang masih mempertahankan adat dan budayanya di era modern seperti sekarang. Penduduk yang tinggal di Pulau Nias menjalani kehidupan mereka seperti leluhur mereka sehingga tradisi tidak hilang ke zaman dan modernisasi. Orang-orang di Pulau Nias dikenal karena budaya berkelahi mereka, atau yang lebih dingin adalah pejuang seperti Sparta dan Mongol. Di masa lalu, para Pejuang Nias berjuang mati-matian untuk mempertahankan wilayah dan juga kebanggaan kelompok mereka sampai perang besar sering terjadi. Berikut ini adalah lima fakta tentang kesulitan Suku Nias, yang sering disebut sebagai Spartan asli Indonesia.
HOMBO BATU, TRADISI MELOMPAT BATU SEBAGAI ACARA PRESTIGIUS UNTUK MENGUKUR KEKUATAN DAN AGILITAS PRIA NIAS




Awalnya, tradisi lompat batu ini dilakukan untuk membuktikan kematangan dan kedewasaan seorang pria. Seiring waktu, tradisi ini telah berubah menjadi adegan kelincahan bagi pemuda Nias. Tes fisik dan mental pemuda Nias diuji dengan melompati formasi batuan megalitik untuk membentuk piramida setinggi dua meter.

Melompat lebih dari dua meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm tidak mudah. Tidak sedikit yang gagal melakukan lompatan. Jadi, ketika ada seorang pria yang berhasil melompati Hombo Batu dalam satu lompatan, adalah suatu kehormatan untuk berterima kasih. Agar berhasil dianut, pemuda suku Nias mulai berlatih secara fisik dan mental dari usia 7 hingga 12 tahun. Tradisi Hombo Batu dapat ditemukan di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari), Nias.

MEREKA YANG MAMPU BERLALU MELALUI HOMBO BATU AKAN DIBUAT SOLDIER UNTUK MELINDUNGI DESA


 

Para pemuda yang telah berhasil melewati Hombo Batu akan bertugas menjaga desa dari konflik antar desa. Kekuatan fisik dan mental yang telah dilatih selama proses pelatihan melompati Hombo Batu menjadi modal yang kuat untuk menangkis serangan musuh. Harapannya, para pemuda terpilih itu mampu melawan serangan lawan.
BANYAK PERCAYA BAHWA KEBERHASILAN PRIA MENEMPATKAN HOMBO BATU DIMENGARUHI GARIS



Meskipun mereka telah berlatih keras, tidak semua pria bisa melewati Hombo Batu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keberhasilan atau kegagalan melampaui Hombo Batu dipengaruhi oleh faktor garis keturunan. Konon, jika ayah atau kakek seorang lelaki pelompat batu berhasil melewati Hombo Batu, maka bocah lelaki itu bisa berhasil melakukannya juga. Sebaliknya, sebaliknya, ketika ayah atau kakeknya kesulitan ketika melompati Hombo Batu, penduduk setempat percaya putra mereka juga akan mengalami hal yang sama. Maka, agar tradisi berjalan lancar, warga setempat melakukan upacara lompat batu Fahombo untuk meminta izin kepada arwah leluhur yang telah mendahuluinya.

NIAS MEMILIKI Tarian FALUAYA TRADISIONAL, WAR DANCE SEBAGAI SIMBOL KETAHANAN DARI NIAS


Suku Nias dikenal sebagai orang Indonesia sederhana. Selain tradisi Hombo Batu sebagai bukti ketangkasan laki-laki, Nias memiliki tarian perang yang disebut Foluaya. Tarian perang Foluaya ini mewakili sejarah perang antara suku-suku Nias yang terjadi. Seperti ksatria dalam perang, setiap penari membawa perisai (baluse), pedang (gari), dan tombak (toho) sebagai alat pertahanan.
Munculnya tarian perang Foluaya tidak dapat dijauhkan dari pengaruh Hombo Batu. Tarian tradisional ini muncul setelah berakhirnya periode perang antar desa di Nias. Sebelum tarian ini ada, para pemimpin desa berinisiatif mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih dalam perang. Mereka berkumpul untuk melindungi desa dari serangan suku lainnya. Salah satu latihan fisik yang dilakukan adalah dengan melompati Hombo Batu. Mereka yang terpilih akan dikelompokkan menjadi sekelompok tentara yang melindungi desa.

Setelah konflik antara perang suku tidak ada lagi, gerakan lincah pemuda ketika melawan serangan lawan kemudian diterapkan sebagai tarian tradisional untuk menyambut tamu terhormat.
ONO NIHA, SPARTA INDONESIA, YANG BAHKAN SULIT UNTUK BELANDA DAN JEPANG UNTUK MENAKLUKAN



Ono Niha, yang berarti bahwa keturunan Nias memang memiliki semangat juang yang mengerikan. Pelatihan fisik dan mental yang kuat menciptakan karakter pejuang yang siap untuk mempertahankan tanah leluhur mereka.

Sejarah mencatat bahwa Belanda harus melakukan tiga ekspedisi militer untuk mengendalikan Nias. Tepatnya pada 1756, 1855 dan 1856. Orang-orang Nias memang pejuang yang hebat. Tiga ekspedisi militer yang diluncurkan oleh Belanda tidak berbuah manis. Pasukan Belanda akhirnya harus mengakui kekuatan para pejuang Nias yang dipimpin oleh Raja Orahili. Maka, sudah sepantasnya Belanda menjuluki Raja Orahili sebagai "De Verdijver der Hollanders" (Pengusiran Belanda). Setelah ratusan tahun perlawanan sengit, baru pada tahun 1912 Nias jatuh ke dalam kekuasaan Belanda. Betapa bangsa prajurit yang luar biasa!
OMO SEBUA, RUMAH TRADISIONAL NIAS TRIBAL MEMILIKI KONSTRUKSI BANGUNAN TAHAN BANGUNAN YANG KUAT DAN GEMPA


Suku Nias memang telah dilahirkan sebagai suku prajurit sejak dahulu kala. Lihat saja rumah tradisional suku Nias, Omo Sebua. Rumah tradisional Omo Sebua ini didirikan tanpa paku dan dirancang khusus untuk melindungi penghuninya dari serangan musuh selama perang suku. Dengan tiang kayu besi besar, rumah tradisional Omo Sebua berdiri kokoh. Rumah tradisional Omo Sebua memiliki atap yang curam dengan ketinggian 16 meter. Akses ke rumah tradisional Omo Sebua hanya di tangga kecil di pintu depan. Kurangnya akses ke rumah merupakan strategi bagi leluhur suku Nias untuk meminimalkan serangan terhadap suku-suku lain.

Selain melindungi diri dari musuh, Omo Sebua juga tahan terhadap goncangan gempa. Fondasi rumah yang berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal besar dapat meningkatkan fleksibilitas dan stabilitas konstruksi bangunan terhadap gempa bumi.

NIAS MEMILIKI BAHASA DAERAH YAKNI "LI NIHA"


Li Niha dipengaruhi oleh kelompok bahasa Melayu-Polinesia yang menggunakan bahasa Li Niha. Setiap akhir kata tidak memiliki akhiran konsonan. Misalnya, seperti pada kata "Ono Niha, yang berarti keturunan Nias, Manga yang berarti makan, atau fofo yang berarti burung. Keunikan lain, Bahasa Li Niha memiliki 6 huruf vical, yaitu a, i, u, e, o , dan huruf ö. Pelafalan huruf ö itu seperti ketika kita mengucapkan kata "enam, suka, dan bahagia".
YA'AHOWU, SALAM YANG DIKATAKAN OLEH SUKU NIAS


Jika Anda memiliki teman yang datang dari Nias, Anda harus terbiasa dengan ucapan ini. Ya'ahowu adalah ucapan yang biasanya disampaikan oleh penduduk setempat untuk menyapa orang Nias lainnya. Jika diartikan, Ya'ahowo berarti "semoga diberkati".

ASAL USUL ORANG NIAS DARI TAIWAN


Ono Niha, yang berarti ketahanan anak-anak manusia di Nias memiliki kulit yang lebih ramping dan memiliki mata yang lebih kecil dibandingkan dengan anak-anak di Indonesia. populasi. Setelah penyelidikan dan penelitian genetik, bukti ditemukan bahwa leluhur suku Nias berasal dari Taiwan.

Hasil penelitian ini diungkapkan oleh mahasiswa doktoral dari Departemen Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam di Eijkman Institute for Molecular Biology pada tahun 2013. Menurutnya, masyarakat Nias berasal dari orang-orang Austronesia yang diperkirakan datang dari Taiwan melalui rute Filipina pada 4000 hingga 5000 tahun yang lalu.

Dalam penelitiannya, Mannis van Oven mengungkapkan bahwa dari semua populasi yang diteliti, kromosom Y (kromosom yang membawa sifat laki-laki), dan mitokondria-DNA (yang diwarisi dari kromosom induk) orang Nias sangat mirip dengan orang Taiwan dan Filipina.
PERTARUNGAN TELAH MENCIPTAKAN DARAH


Catatan budayadi Pulau Nias dilakukan oleh para pedagang Persia. Perdagangan ini datang di daerah Nias sekitar tahun 851 M untuk menjalin kerja sama dengan penduduk setempat yang memiliki banyak kerajinan dalam bentuk perhiasan dan dalam bentuk kain dan tenun yang menakjubkan.

Pedagang Persia ini yang datang pada abad ke-9 mengatakan bahwa penduduk di Nias sangat menjunjung tinggi budayanya. Mereka dikenal sangat kreatif meskipun dalam beberapa hal suku Nias kuno dianggap agak mengerikan. Mereka memiliki budaya mengayau atau berburu kepala manusia untuk tujuan ritual. Mereka melakukan perburuan dengan bertarung dengan sengit.

KEHORMATAN SANGAT TINGGI


Kebanggaan masyarakat Nias sangat tinggi. Mereka akan bertarung dengan semua jiwa mereka jika mereka merasa dilecehkan. Di masa lalu, klan atau desa di Pulau Nias sering melakukan perang untuk mempertahankan wilayah dan juga kehormatan sebuah desa atau klan.

Kebiasaan pertempuran yang dilakukan oleh orang-orang Nias kuno telah ada selama ribuan tahun. Bahkan sejak budaya megalitik hadir 13.000 tahun yang lalu, orang-orang di Pulau Nias telah terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan pertempuran.budaya Prajurit di wilayah ini terus tumbuh hingga akhirnya menghilang perlahan.
PERJANJIAN DAN MEMPERTAHANKAN WILAYAH


Selain menjaga martabat klan atau desa, budaya pertempuran yang dilakukan oleh suku Nias juga dilakukan untuk membela warga. Di masa lalu, perbudakan banyak terjadi di wilayah Sumatera utara. Orang-orang dari wilayah Pulau Nias sering ditangkap dan kemudian dibawa ke Aceh atau Padang untuk dijual.

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, orang-orang di Pulau Nias akhirnya menolak infiltrasi. Mereka tidak ragu-ragu berperang jika situasinya memburuk dan banyak orang dari desa mereka diculik menjadi budak.
WILAYAH YANG PALING SULIT DI INDONESIA


Mungkin wilayah Pulau Nias lebih kecil dari daerah lain seperti Jawa dan Sumatra. Namun, daerah ini adalah wilayah yang paling sulit dijinakkan oleh Belanda dan Jepang selama penjajahan di Indonesia. Setidaknya selama ratusan tahun di pulau ini, Belanda yang baru mampu menjinakkan Nias dan memaksa pasukannya pada tahun 1914.

Warga di wilayah Nias bertengkar dengan Belanda di masa lalu. Selama beberapa dekade, Belanda tidak bisa masuk terlalu dalam karena mereka pasti akan diserang oleh pejuang yang mempertaruhkan segalanya untuk suku dan desa mereka. Wilayah Pulau Nias adalah neraka bagi Belanda karena budaya bertarungnya luar biasa dan mengerikan.
PERANG BUDAYA DI ERA MODERN


Di era modern seperti sekarang, perang oleh pejuang atau ksatria tentu tidak ada lagi. Orang-orang di Nias tidak melakukan apa yang mereka sebut musuh berburu dan kemudian menawarkan kepala mereka kepada para pemimpin. Perang yang terjadi di masa lalu akhirnya ditransformasikan menjadi bentuk tarian perang bernama Foluaya.
Foluaya dilakukan oleh pemuda lengkap dengan atribut perang tradisional. Anak kecil juga berpakaian agar bisa terlibat langsung. Orang-orang di Nias ingin agar budaya perang ini tetap ada dan orang-orang muda dari generasi baru terus melaksanakan budaya ini kapan saja. Hilangnya budaya bertarung adalah bencana besar bagi penduduk yang tinggal di Pulau Nias.

Anda mungkin menyukai postingan ini