-->

Yukk Baca!!! Dongeng Asal Mula Masyarakat Kepulauan Nias




DONGENG ASAL MULA MASYARAKAT
KEPULAUAN NIAS

5 Kriteria Karakter Pemimpin Ideal yang Milenial untuk Pulau Nias - Majulah NiasKU!

Pada zaman dulu kala di Negara Cina yang kini dikenal dengan sebutan Negara RCC. Di bagian Selatan ada sebuah Kerajaan Besar bernama Yunan Selatan. Di Kerajaan ini penegakkan hukumnya sangatlah ketat tanpa memandang bulu. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja. Dari segi Pemerintahan kekuasaan rakyat betul-betul patuh perintah sudah diputuskan oleh raja. Dikala itu, Raja mengeluarkan satu aturan perihal sanksi terhadap yang melakukan pelanggaran hukum yakni hukuman mati (pancung).

Pada suatu waktu terjadi kasus  pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sang buah hati (Putri)  Raja sendiri. Sang Putri Raja hamil tanpa dikenal siapa pelaku dari perbuatan keji itu. Sebagai seorang Raja tentunya malu akan kejadian tersebut dan hukum adalah hukum maka setiap insan yang hidup di kerajaan tersebut haruslah menerima saknsi termasuk kepada Putrinya tersebut.




Adapun sanksi yang sudah diputuskan terhadap Putrinya di depan para pengawal istana yakni supaya Putrinya harus dipancung. Namun, para pengawal istana kurang setuju akan hal saknsi yang diputuskan oleh sang Raja tetapi para pengawal mengusulkan terhadap sang raja supaya Putrinya diusir atau dibuang dilaut, alhasil Raja menerima masukan para pengawalnya itu.

Setelah diputuskan sanksi tersebut, para pengawal istana menyediakan satu buah perahu layar yang di dalamnya  sudah dilengkapi kebutuhan selama perjalanan dan pelbagai jenis benih tanaman serta satu ekor anjing sebagai pengawal sang Putri jikalau suatu waktu terdampar di daerah daratan.

Alhasil sang Putri yang malang itu dihanyutkan di lautan Samudera Hindia. Sebab arus angin dari Utara lebih kuat dibanding dengan arus angin dari Selatan maka perahu sang Putri terdampar disebuah Pulau kecil. Pulau tersebut yang kini dikenal dengan sebutan Pulau Nias. Dikala sang Putri terdampar, rupanya lokasi pada bagian Pulau itu kini adalah di muara sungai “SUSUA” sebelum pemekaran dikenal sebagai Daerah GOMO.

Baca Juga : Objek Wisata di Nias Selatan

Di muara sungai itu sang Putri memperhatikan dengan seksama rupanya tak seorangpun manusia yang menghuni muara itu. Alhasil sang Putri memastikan untuk pergi menuju hulu sungai dengan tujuan mencari tempat yang berpenghuni.   Ditengah jalan menuju hulu sungai, sang Putri melihat asap disekitar lereng pegunungan, hatinya senang dan berpikir bahwa ada orang yang mau membantunya. Rupanya saat sampai di sekitar daratan yang ada asap itu, tak ada seorang manusia yang bisa menjadi penolongnya. 

Walhasil dia duduk dibawa pohon rindang, dengan sedihnya ia merenung dan berpikir bahwa memang di Pulau ini rupanya memang tak seorangpun manusia yang menghuni pulau ini. Kelelahan tiada duanya yang menimpa dirinya, tanpa disadari matanya terpenjam dan membuktikan bahwa ia sudah lelah dan tertidur pulas. Tiba-tiba ia bangun dan menatap kelangit dari tempat duduk dan dengan sedihnya memikirkan nasibnya, akan tetapi tak terasa air mata mengalir membasahi pipinya. Dengan kegundahan hati yang benar-benar  iapun menentukan dan bertekad bermukiman di tempat itu.
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan tak terasa, usia kandungnya sudah saatnya untuk melahirkan. Dan muzijat dari Tuhan sang Ilahi, sang Putri melahirkan seorang anak  laki-laki yang amat manis dan lucu.

Tahun demi tahun sang buah hati beranjak menuju kedewasaan. Si buah hati mulai membantu sang ibunya untuk menafkahi kebutuhan sehari-hari dari benih tumbuhan yang dibawa oleh ibunya dari Kerajaan. Suatu waktu sang Putri berkata terhadap si buah hati “Hai anakku, pergilah engkau mengitari pulau ini. Sang anak menjawab “Ibunda, apa gerangan sehingga Bunda menyuruhku untuk pergi mengitari pulau ini? Namun Ibunya berkata “Anakku usiamu sudah beranjak dewasa, pastilah engkau tak mungkin hidup menyendiri seumur hidupmu, engkau membutuhkan satu orang pendamping hidup, untuk itu berangkatlah dan cincin ini kuberikan padamu menandakan bahwa bunda senantiasa bersamamu. Dan jikalau diperjalanan engkau menemukan seseorang perempuan pasangkanlah cincin ini dijari manisnya dan jadikanlah ia sebagai istrimu. Saat hatimu bergetar menyusuri muara sungai besar telusurilah kehulu sungai itu. Dan jikalau ketemu dengan seseorang gadis berikanlah ia cincin ini dan jadikanlah ia sebagai istrimu.

Maka sang buah hati dengan berat hati berangkat meninggalkan ibunya di tengah hutan tanpa ada manusia yang menjadi tetangganya.

Baca Juga: Bahasa, Budaya, Sejarah & Marga Pulau Nias

Tahun berganti tahun sang anak mengitari pulau namun tak seorangpun bertemu dengannya. Tibalah dia di muara sungai besar. Dan hatinya bergetar, sehingga ia teringat akan pesan bundanya terhadapnya, menyusuri hulu sungai itu. Sesampai ke hulu sungai dia bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik jelita dan menawan. Tanpa berpikir panjang dia seketika memasangkan cincin di jari manis gadis itu dan berkata “kaulah istriku”, sebab ibuku berpesan jikalau cincin ini sesuai pada jari manis  gadis yang aku temui maka tidak lain kamu adalah istriku”.

Maka mereka pun menjadi syah sebagai suami-istri dan membentuk satu keluarga yang bahagia  dan bertempat tinggal di daerah yang dikenal sebagai Daerah BORONADU yang sekarang ini sudah menjadi sebuah kecamatan pecahan dari kkecamatan Gomo. Dan mereka dikaruniai banyak anak yang keturunannya Ono Niha saat ini. Itulah dongeng asal mulanya masyarakat pulau Nias.




Benar tidaknya cerita tersebut sampai sekarang ini belum dapat terjawab. Yaahowu. Tuhan Yesus Memberkati.
Tag : Orang Nias, Suku Nias, Sejarah Orang Nias, Asal Usul Suku Nias, Pulau Nias, Dongeng Nenek Moyang Suku/Orang Nias


Anda mungkin menyukai postingan ini