-->

Bahasa, Sejarah, Budaya, Marga dan Kehidupan Sosial Masyarakat Kepulauan Nias

pulau nias, nias, nias selatan, nias utara, nias gunungsitoli, wisata nias, nias selatan, berita nias.
KEPULAUAN NIAS
Rumah Ku, Ya’ahowu . . .!!!



Kepulauan Nias - Indonesia adalah Negeri yang kaya akan budaya dan suku didalamnya. Budaya yang ada di Indonesia sangatlah beragam baik dalam sisi kesenian, budaya atau kebiasaan, bahasa, makanan, kepercayaan dan lain lain. Dalam pembahasan saya kali ini saya akanmembahas kebudayaan yang ada di pulau Nias. Pulau Nias yang terletak di sebelah barat pulau Sumatra lebih tepatnya terletak kurang lebih 85 mil laut dari Sibolga,daerah Provinsi Sumatera Utara.ini dihuni oleh suku Nias atau mereka menyebut diri mereka Ono Niha yang masih memiliki budaya megalitik. Pulau yang memiliki penduduk mayoritas Kristen protestan telah dimekarkan menjadi empat kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang laindan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikapsikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.




Sejarah Pulau Nias - Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di media masa menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam. Pernyataan ini didukung dengan adanya penelitian lebih lanjut oleh
 Manis van Houven. Suku Nias adalah kelompok masyarakatyang hidup di PulauNias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah). Suku Nias merupakan suku yang menempati Pulau Nias, Sumatera, Indonesia.

Sistem Kemasyarakatan - Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi, sistem gotong royong yang masih di lestarikan. Hukum adat Nias secara umum disebut Fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian.Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu/Si’Ulu".Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

Kepercayaan Masyarakat Nias - Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas, sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis.

Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan lalu disembah oleh orang Nias.Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain.Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung).Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur.Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu".Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik.
 
Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masing-masing (adu Nuwu dan adu Zatua).  Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato).  Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya.Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya.Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah.Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka, maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illahi keluarga lain.

         Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini, tiap orang mempunyai dua macam tubuh, yaitu yang kasar dan yang halus.Yang kasar disebut Boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu Noso (nafas) dan lumö-lumö (bayang-bayang).Jika mati atau meninggal, botonya kembali menjadi debu, sedangkan nosonya kembali kepada Lowalangi (Tuhan).
Sedangkan lumö-lumönya berubah menjadibekhu (makhluk halus). Selama belum dilakukan upacara kematian, bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. Karena menurut kepercayaan, untuk pergi ke Tetehöli Ana'a (dunia ruh atau gaib), Ia harus lebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan.
      
Menurut kepercayaan pelbegu, kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan sese orang di dunia. Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam, demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik.Dikemukakan oleh Koentjaraningrat, berlandaskan kepada suatu kebudayaan Megalithik, yang rupa-rupanya telah mereka bawa dari benua Asia pada zaman perunggu, mereka telah mengembangkan suatu kebudayaan sendiri, ialah kebudayaan Megalithik yang bukan berdasarkan pengurbanan kerbau melainkan babi.
Sistem Perkawinan Masyarakat Nias - Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias.Etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma-cuma. Jadi, arti sejati böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua kepada anaknya. Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang harus disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya, misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan), seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak mempelai perempuan) , seekor untuk kaum ibu-ibu (ö ndra’alawe) yang memberikan nasehat kepada kedua mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan masih banyak lagi babi-babi yang disembelih. Selain yang disembelih, ada juga babi yang dipergunakan untuk “famolaya sitenga bö’ö“. Antara lain: sekurang-kurangnya seekor untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari orangtua mempelai perempuan), seekor untuk “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai perempuan, biasanya babi ini diuangkan dan uang itu dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo, dsb (dan jika pas hari “H” perkawinan, ibu atau ayah atau paman, atau sirege dari pihak saudara perempuan menghadiri pesta perkawinan, maka mereka-mereka ini juga harus difolaya, biasanya seekor hingga tiga ekor babi). Dan masih ada pernik lain, yakni fame’e balaki atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa famokai danga kepada nenek dan ibu mempelai perempuan; juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu diharuskan emas).

1.      Pertanian
Bidang pertanian merupakan salah satu mata pencaharian bagi masyarakat Nias, terutama yakni tanaman pangan. Pertanian merupakan penunjang bagi keberlangsungan kekerabatan bagi masyarakat Nias untuk saling berbagi di masa-masa susah. Kebersamaan dalam mengolah tanaman pertanian terlihat jelas dalam kegiatan gotongroyong dalam membuka lahan maupun pada saat dilaksanakan penanaman tanaman tersebut, kebersamaan juga terjalin saat panen tiba.
2.      Perkebunan
Tanaman perkebunan yang ada di Kabupaten Nias adalah tanaman perkebunan rakyat dengan komoditi andalan karet, kelapa, kakao dan beberapa komoditi yang lain seperti kopi, cengkeh, pala dan nilam. Hasil tanaman perkebunan rakyat dari Kabupaten Nias pada umumnya hampir seluruhnya dijual keluar daerah dalam bentuk bahan mentah, melalui para pedagang baik lokal maupun luar daerah.
3.     Kehutanan Nias terdiri dari beberapa hutan antara lain : hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi dan hutan konversi.
4.      Peternakan
Ternak yang paling dominan adalah ternak babi, kambing, sapi, kerbau, unggas berupa ayam dan itik.
5.      Perikanan
hasil produksi ikan di Nias selama antara lain terdiri dari produksi ikan laut, produksi ikan air tawar, ikan yang berasal dari sungai, ikan rawa, ikan kolam, dan ikan tambak.
6.      Perindustrian
Di Nias terdapat beberapa unit perusahaan/usaha industri kecil.

Sistem Bahasa Nias - Bahasa Nias, atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias.Bahasa ini merupakan salah satu bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis dari mana asalnya. Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar setengah juta orang.Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal.Bahasa Nias mengenal enam huruf vokal, yaitu a,e,i,u,o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan "e" seperti dalam penyebutan "enam" ). Disisi lain, berdasarkan intonasi dan gaya bicara orang nias memiliki keunikan dimana dalam suatu kabupaten ke kecamatan dan kedesa memiliki perbedaan intonasi bahasa dan sedikit perbedaan bahasa satu sama lain yang artinya dalam suatu kecamatan terbagi beberapa desa dan di dalam suatu kecamatan tersebut perbedaan bahasa dan intonasi bahasa memiliki perbedaan.
Marga Suku Nias - Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.Berikut beberapa Marga yang ada di dalam suku Nias : AMAZIHÖNÖ, BAEHA, BAENE, BATE'E, BAWAMENEWI, BAWANIWA'Ö, BAWÖ, BALI, BOHALIMA, BU'ULÖLÖ, BUAYA, BUNAWÖLÖ, BULU'ARO, BAGO, BAWA'ULU, BIDAYA, BAZIKHO, DAKHI, DAELI, DAYA, DOHARE, DOHÖNA, DUHA, DUHO, DOHUDE, FAU, FARASI, FINOWA'A, FAKHO, FA'ANA,FAMAUGU, FANAETU, FALAKHI, GAHO, GARAMBA, GEA, GE'E, GIAWA, GOWASA, GULÖ, GANUMBA, GAURIFA, GOHAE, GORI, GARI, HALAWA, HAREFA, HARIA, HARITA, HIA, HONDRÖ, HULU, HUMENDRU, HURA, HOYA, HARIMAO, LAFAU, LAHAGU, LAHÖMI, LA'IA, LUAHA, LAOLI, LAOWÖ, LAROSA, LASE, LAWÖLÖ, LO'I, LÖMBU, LAMÖLÖ, LATURE, LUAHAMBOWO, LAZIRA, LAWELU, LAWENI, LASARA, LAERU, LÖNDU GO'O,LAROSA, MADUWU, MANAÖ, MARU'AO, MARUHAWA, MARULAFAU, MENDRÖFA, MARUABAYA, MÖHÖ, MARUNDRURI, MÖLÖ, NAZARA, NDRAHA, NDRURU, NEHE, NAKHE, NADOYA, OTE, SADAWA, SA'OIAGÖ, SARUMAHA, SARO, SIHÖNÖ, SIHURA, SISÖKHI, SAOTA, TAFÖNA'Ö, TELAUMBANUA, TALUNOHI, TAJIRA, WAU, WAKHO, WAOMA, WARUWU, WEHALÖ, WARASI, WARAE, WOHE, ZAGÖTÖ, ZAI, ZALUKHU, ZAMASI, ZAMAGO, ZAMILI, ZANDROTO, ZEBUA, ZEGA, ZENDRATÖ, ZIDOMI, ZILIWU, ZIRALUO, ZÖRÖMI, ZALÖGÖ, ZAMAGO, ZAMAUZE.

Wisata Pulau Nias - Pulau yang memiliki luas wilayah 5.625 kilometer persegi ini memiliki keindahan alam dan pantai yang begitu mempesona. Banyak objek wisata yang dapat dikunjung dipulau Nias, Nias memiliki Pantai yang bias mengimbangi pantai – pantai di Bali seperti pantai pantai yang ada di Nias Utara, Nias Barat, dan Guning Sitoli terlebih Nias Selatan.Wisata budaya juga menjadi prioritas para pelancong baik wisatawan domestik maupun mancanegara.Wisata budaya yang ada di Nias terletak di Nias Selatan, Desa-desa tradisional di Pulau Nias yang masih menyimpan sejumlah peninggalan budaya dan para penutur sejarah dapat menjadi pilihan utama wisata budaya di Nias.Wisata budaya yang terkenal dari Nias adalah Tari Perang dan Lompat Batu atau Hombo Batu. Wisata yang mampu menarik minat wisatawan ini akan saya bahas dalam wacana kali ini. Selain menjalankan roda perekonomian, kegiatan pariwisata budaya ini mampu mengembalikan kecintaan akan nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.



Tari Perang  - Tari Perang atau Foluaya merupakan lambang kesatria para pemuda di desa – desa di Nias. Tari Perang ini hanya dimiliki oleh orang Nias bagian Selatan yang artinya ialah untuk melindungi desa dari ancaman musuh, yang diawali dengan Fana’aatau dalam bahasa Indonesia disebut dengan ronda atau siskamling. Pada saat ronda itu jika ada aba-aba bahwa desa telah diserang oleh musuh maka seluruh prajurit berhimpun untuk menyerang musuh. Setelah musuh diserang, maka kepala musuh itu dipenggal untuk dipersembahkan kepada Raja, hal ini sudah tidak dilakukan lagi karna sudah tidak ada lagi perang suku di Nias.Persembahan ini disebut juga dengan Binu. Sambil menyerahkan kepala musuh yang telah dipenggal tadi kepada raja, para prajurit itu juga mengutuk musuh dengan berkata “Aehohoi”yang berarti tanda kemenangan setelah di desa dengan seruan “Hemitae” untuk mengajak dan menyemangati diri dalam memberikan laporan kepada raja di halaman, sambil membentuk tarian “Fadohilia” lalu menyerahkan binu itu kepada raja. Setelah itu, raja menyambut para pasukan perang itu dengan penuh sukacita dengan mengadakan pesta besar-besaran. Lalu, raja menyerahkan Rai, yang dalam bahasa Indonesia seperti mahkota kepada prajurit itu. Rai dalam suku Nias adalah merupakan tanda jasa kepada panglima perang.Tidak hanya Rai yang diberikan, emas beku juga diberikan kepada prajurit-prajurit lain yang juga telah ikut ambil bagian dalam membunuh musuh tadi.Kemudian, raja memerintahkan “Mianetogo Gawu-gawu Bagaheni”, dengan fatele yang menunjukkan ketangkasan dengan melompat-lompat lengkap dengan senjatanya yang disebut  Famanu-manu yang ditunjukkan oleh dua orang prajurit yang saling berhadap-hadapan.Seiring berkembangnya Zaman Tradisi ini dilakukan hanya pada hari hari tertentu atau untuk merayakan acara acara tertentu.

Baca Juga: Belanda & Jepang Lewat! Nias Bukan Kaleng-Kaleng


Lompat Batu - Budaya Megalitik yang ada di Nias atau yang sering dikenal dengan sebutan Hombo Batu atau Lompat Batu yang masih ada dan sering ditampilkan oleh pemuda setempat. Batu – batu yang disusun dengan ciri khas tersendiri ini di gunakan oleh masyarakat setempat untuk melakukan tradisi Lompat Batu atau Hombo Batu. Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur ,di mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga mereka melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati. Seiring berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya.Karena jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga sebagai simbol budaya orang Nias. Tradisi tersebut diadakan untuk mengukur kedewasaan dan kematangan seorang lelaki di Nias sekaligus ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Tradisi lompat batu dilakukan pemuda Nias untuk membuktikan kalau mereka diperbolehkan untuk menikah.Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar.Tingginya tak kurang 2 meter dengan lebar 90 centimeter dan panjang 60 centimeter.Para pelompat melompati Batu besar itu melalui pijakan batu kecil sebelum melompati batu peninggalan masa lalu tersebut. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tehnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan akibat yang fatal seperti cedera otot atau patah tulang. Banyak pemuda yang bersemangat untuk dapat melompati batu besar ini sampai sekarang ini.

Tari Moyo - Tari Moyo atau disebut juga dengan Tari Elang yang terus mengepakkan sayapnya dengan lembut tanpa mengenal lelah, menaklukkan sesuatu yang bermakna bagi sesamanya dan dirinya sendiri. Tarian ini melambangkan keuletan dan semangat secara bersama dalam mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan.Tari Moyo ini kadang dilaksanakan setelah atau sebelum acara atau perayaan-perayaan atas hari tertentu, bahkan untuk menyambut tamu di Nias sendiri.




 Tari Maena – Tarian dengan gerakan sederhana yang dilakukan untuk mengiringi salah satu alat music traditional dari nias yang bernama Maena untuk perempuan dan Folaya untuk laki laki. Tarian ini dapat diikuti oleh banyak orang dan sering dilakukan dalam kegiatan terbuka, acara penerimaan tamu terhormat di pulau Nias.Makna dari tarian ini adalah sebagai pemersatu dan ekspresi dari kebahagian masyarakat Nias.

Baju Adat - Kebudayaan suku nias yang sampai saat ini masih dipertahankan lainnya adalah pakaian adat. Pakaian adat nias berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti merah, hitam, dan putih. Filosofi warna kuning keemasan pada pakaian adat nias ini untuk melambangkan kejayaan, kemakmuran, kekuasaan, dan kebesaran.Pakaian ada untuk wanita disebut sebagai Oroba Si’oli dan Baru Oholu untuk
laki laki.Beberapa kebudayaan dari suku nias yang sampai saat ini masih dipertahankan sebagai salah satu daya tarik wisata serta sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur dari masyarakat nias.

Rumah Adat - Sama halnya dengan kebudayaan suku Bali dan suku suku lainnya di Indonesia, suku Nias juga memiliki rumah adat khas yang disebut sebagai Omohoda. Karena adanya perkembangan jaman dan masuknya berbagai pengaruh dari luar Nias menjadikan jumlah rumah adat yang ada di Nias sekarang sudah sedikit yang bisa di temui.Seperti contohnya yang terdapat disalah satu desa adat Kampung Hilismaetano, Bawamataluo yang dulunya memiliki banyak rumah rumah adat nias namun sekarang sudah banyak yang mengalami modifikasi dari bentuk aslinya.Rumah ada nias ini memiliki bentuk khas dari tradisi nenek moyang yang selalu membuat rumah untuk membantu melindungi dari berbagai ancaman lingkungan luar serta hewan buas. Rumah adat nias ini memiliki bentuk tumah panggung dengan desing dan arsitek yang sangat luar biasa serta kelebihannya pada rumah adat tersebut tidak memiliki paku sebagai penempel pada kayu lainnya akan tetapi hanya menggunakan kayu yang dibuat sedemikian rupa. Setiap daerah di Nias memiliki bentuk rumah ada yang berbeda satu sama lainnya. Berdasarkan penelitian dari sisi asal mula orang Nias Omohada orang nias memiliki persamaan dengan rumah-rumah di Vietnam itulah mengapa orang Nias dikatakan berasal dari Vietnam.


 

Penutup - Negara kita adalah Negara yang kaya akan budaya dan Tradisi – Tradisi yang selalu di pertahankan untuk mempertahankan indentitas akan bangsa atau suku yang ada di Indonesia. Keragaman budaya akan satu suku terhadap suku lainnya membuat Negara ini menjadi Negara yang kaya. Dalam segi ekonomi, Tradisi atau budaya daerah seperti di Nias yang disebut dapat membantu mendongkrak Ekonomi daerah tersebut agar lebih baik. Suku yang lupa akan asal muasal atau tradisi nenek moyang akan bangsa atau suku mereka akan tenggelam dalam arus perubahan zaman seperti sekarang. Banyak pemuda yang lupa bahkan tidak tahu tradisi akan daerahnya sendiri, apalagi Budaya akan Bangsanya. Kita perlu mengetahui budaya–budaya yang ada di Negara kita agar kita tidak terpengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya kita.Agar kita tidak terpengaruh budaya buruk dari Globalisasi kita harus mengetahui siapa jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia.Selain yang disebutkan diatas, masih banyak bentuk kebudayaan dari suku nias yang belum dapat diulas dalam artikel ini.


Tag: Pulau Nias, Sejarah Nias, Budaya Nias, Bahasa Nias, Suku Nias


Referensi :
                
1.    http://watipuspitasari.blogspot.com/2011/04/kebudayaan-suku-nias.html
2.    https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-nias- yang-paling-fenomenal.html
3.    https://ammarhamzah9.wordpress.com/2013/03/13/kebudayaan-di-nias. html

Anda mungkin menyukai postingan ini